Kurikulum Merdeka 2026/2027 Tahun Ke-2: Perubahan, Deep Learning & Siap Apa?

Mediascanter.id – Memasuki tahun ajaran baru, Kurikulum Merdeka 2026/2027 kembali menjadi perhatian banyak guru, siswa, dan orang tua. Tahun ajaran ini menjadi momen penting karena implementasi Kurikulum Merdeka memasuki fase yang lebih matang. Selain itu, muncul pembahasan mengenai pendekatan deep learning yang mulai banyak dikenalkan dalam berbagai pelatihan dan sosialisasi pendidikan.
Lalu, apakah Kurikulum Merdeka mengalami perubahan besar? Bagaimana hubungan antara Kurikulum Merdeka dan deep learning? Apa saja yang perlu dipersiapkan oleh sekolah, guru, siswa, hingga orang tua? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa yang Dimaksud dengan Kurikulum Merdeka 2026/2027?
Pada tahun ajaran Kurikulum Merdeka 2026/2027, pemerintah tetap melanjutkan penerapan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional. Fokus utamanya masih sama, yaitu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, serta memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan metode belajar sesuai kebutuhan kelas.
Artinya, sekolah tidak lagi hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi juga membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam. Guru memiliki kesempatan memilih strategi belajar yang paling sesuai agar proses pembelajaran terasa lebih bermakna.
Dengan pendekatan seperti ini, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Apakah Ada Perubahan pada Tahun Ajaran 2026/2027?
Banyak orang mengira akan ada perubahan kurikulum secara menyeluruh. Faktanya, pemerintah lebih banyak melakukan penguatan daripada mengganti struktur Kurikulum Merdeka.
Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain:
- Penguatan kualitas pembelajaran.
- Pemanfaatan asesmen sebagai bahan refleksi.
- Pengembangan karakter peserta didik.
- Peningkatan kompetensi guru.
- Penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Dengan kata lain, sekolah tetap menggunakan prinsip Kurikulum Merdeka, tetapi pelaksanaannya semakin diarahkan agar memberikan hasil belajar yang lebih baik.
Deep Learning, Apa Maksudnya?
Belakangan ini istilah deep learning sering muncul dalam berbagai diskusi pendidikan. Namun, deep learning yang dimaksud bukanlah teknologi kecerdasan buatan, melainkan pendekatan pembelajaran.
Deep learning mendorong siswa untuk benar-benar memahami materi, bukan sekadar menghafal informasi.
Melalui pendekatan ini, mengajak siswa untuk:
- Mengamati suatu masalah.
- Bertanya dan berdiskusi.
- Menghubungkan berbagai konsep.
- Mencari solusi.
- Menyampaikan hasil pemikiran.
Pendekatan tersebut membuat proses belajar terasa lebih aktif dan mendorong rasa ingin tahu siswa.
Hubungan Deep Learning dengan Kurikulum Merdeka
Sebenarnya, prinsip deep learning sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka.
Keduanya sama-sama menekankan:
- Pembelajaran yang bermakna.
- Keaktifan peserta didik.
- Pengembangan kemampuan berpikir.
- Pemecahan masalah nyata.
- Refleksi setelah belajar.
Karena memiliki tujuan yang sama, banyak sekolah mulai mengintegrasikan pendekatan ini ke dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Apa yang Perlu Guru Persiapkan?
Guru memegang peran penting dalam keberhasilan pembelajaran.
Beberapa hal yang dapat menjadi fokus antara lain:
- Menyusun pembelajaran yang lebih interaktif.
- Mengurangi metode ceramah yang terlalu panjang.
- Memberikan kesempatan diskusi.
- Menggunakan proyek sederhana.
- Mengajak siswa melakukan refleksi setelah belajar.
Guru juga dapat memanfaatkan berbagai platform belajar digital untuk memperoleh referensi metode pembelajaran terbaru.
Apa yang Perlu Dipersiapkan Siswa?
Siswa juga perlu beradaptasi dengan pola belajar yang lebih aktif.
Beberapa kebiasaan yang bisa mulai dibangun yaitu:
- Berani bertanya.
- Aktif berdiskusi.
- Membaca materi sebelum pelajaran.
- Menyampaikan pendapat dengan sopan.
- Mengerjakan proyek secara kolaboratif.
Semakin aktif siswa mengikuti pembelajaran, semakin mudah mereka memahami materi.
Peran Orang Tua Tidak Kalah Penting
Keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada sekolah.
Orang tua dapat membantu dengan cara:
- Menanyakan pengalaman belajar anak.
- Memberikan dukungan saat mengerjakan proyek.
- Menyediakan waktu belajar yang nyaman.
- Membatasi penggunaan gawai ketika belajar.
- Memberikan apresiasi atas usaha anak.
Dukungan sederhana dari rumah sering memberikan dampak yang besar terhadap motivasi belajar.
Apakah Asesmen Masih Tetap Ada?
Jawabannya, ya.
Namun, asesmen bukan hanya bertujuan memberikan nilai.
Guru memanfaatkan hasil asesmen untuk:
- Mengetahui perkembangan belajar siswa.
- Menentukan materi yang perlu penguatan.
- Menyesuaikan strategi pembelajaran.
- Memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.
Dengan cara ini, asesmen menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar penilaian akhir.
Tantangan pada Tahun Kedua Kurikulum Merdeka
Walaupun penerapannya semakin luas, masih ada beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Misalnya:
- Adaptasi guru terhadap strategi belajar baru.
- Pemerataan fasilitas antar sekolah.
- Pemanfaatan teknologi pembelajaran.
- Pengelolaan proyek belajar.
- Kolaborasi antara sekolah dan orang tua.
Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan kerja sama dari semua pihak agar proses belajar terus berkembang.
Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah?
Sekolah memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengadakan pelatihan guru secara berkala.
- Mendorong kolaborasi antar guru.
- Memanfaatkan teknologi pendidikan.
- Mengembangkan budaya belajar yang positif.
- Memberikan ruang bagi inovasi pembelajaran.
Lingkungan sekolah yang kondusif akan membantu siswa belajar dengan lebih nyaman.
Kurikulum Merdeka Bukan Sekadar Pergantian Istilah
Masih ada anggapan bahwa Kurikulum Merdeka hanya mengganti nama kurikulum sebelumnya. Padahal, perubahan utamanya terletak pada cara belajar.
Guru lebih leluasa memilih metode pembelajaran. Siswa memperoleh kesempatan untuk lebih aktif. Orang tua juga memiliki ruang untuk mendukung proses belajar dari rumah.
Pendekatan seperti inilah yang harapannya mampu menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Kurikulum Merdeka 2026/2027 memasuki tahun kedua dengan fokus pada penguatan kualitas pembelajaran, bukan perubahan kurikulum secara menyeluruh. Kehadiran pendekatan deep learning semakin memperkuat tujuan Kurikulum Merdeka, yaitu membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam melalui pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna.
Keberhasilan penerapan kurikulum ini bergantung pada kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Jika semua pihak saling mendukung, proses belajar akan menjadi lebih efektif sekaligus menyenangkan.